AKU DAN INDONESIA (PUISI NASIONALISME)

AKU DAN INDONESIA
Aku lahir dari darah, air, tanah, dan api Indonesia
Negeri jajahan tidak menjadikanku setengah Indonesia-belanda.
Udaranya sejuk masuk ketubuhku akan keluar mengusir asap asap emprialisme
Airnya kuteguk menjadi darah yang akan menghapus ketakutan kapitalisme.
Tanahnya menjadi sajadah pengabdian dan perjuanangku dalam menghadapi globalisasi medernisme

Aku lahir dari darah, air, tanah dan api Indonesia
Bukan dari kerakusan kerajaan feodalisme
Aku beragama Indonesia, dan agamaku bukan menjadi percobaan liberalisme
Kaum buruh, tuan tanah, pemilik modal mendalang dalam perlombaan kekuasan atas kelahiranku
Peluh keringat perbudakan, ceceran darah peperangan kerap terjadi dalam pesonamu.
Hingga aku lahir berharap ada diantara kesuburan tanahmu yang menumbuhkan emas dan permata

Aku lahir dari darah, air, tanah dan api Indonesia
Setelah kulihat, kekuasaan politik ada dalam daungan demokrasi
Keberagaman budaya ada dalam binneka tunggal ika
Keadilan hukum ada dalam payung Undang undang dasar 1945
Dasar bernegara ada dalam pancasila
Kesetaraan dan kerukunan ada dalam bingkai Agama
Kekayaan ekonomi ada adalam kesejahteraan sosial
Aku tidak ragu lagi berteriak aku anak indonesia
Dan berucap sumpah “Aku lahir dari darah, air, tanah dan api Indonesia”

Keindahan dan kecantikan tak pernah terlewatkan diatas kebahagiaan yang lain.
ketika kulihat kicau burung bersiul aman diatas daun dan pohonnya yang tidak berasap dan dipistol dari luar negeri.
Gugusan gugusan pulaunya damai tentram bergandengan tangan tak bermusuhan dan bercerai berai.
Dan aku tak perlu sedih dan marah terhadap perampok perampok itu.
Cukup kau berikan saja sedikit dari kekayaanmu sebagai sedekah kepada yang membutuhkan
Sehingga engkau semakin subur dan kaya raya.
Sedang perampok perampok itu akan sibuk penuh lena dalam segelas birnya lalu mati
Atau kalau tidak mereka akan merengek dalam kondisi penyakitan pulang keluar negeri
atau tetap menetap disini.
Hahaha, indonesia engkau sungguh sangat dramatis dalam panggung sandiwaranya
Lebih sekedar dalam kitab kitab drama yang telah tamat kubaca.

Sekali lagi izinkan aku berucap sumpah “Aku lahir dari darah, air, tanah dan api Indonesia dan akulah anak kandungmu”

Mantajun, 31-mei-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar